Perjalanan Panjang Tanpa Akhir

Jika kita ingat kembali proses perjalanan hidup yang telah kita lalui sejauh ini, atau cobalah untuk menceritakannya kembali apa-apa yang telah dilalui. Mungkin kita hanya mampu bercerita hanya beberapa jam saja sementara belasan tahun atau puluhan tahun telah dilewati. Sependek itukah hidup kita? Sesingkat itukah hidup kita sehingga kita hanya mampu sedikit menceritakan kehidupan kita. Benar, mungkin ada yang menyangkal ingatan manusia terbatas sehingga ga mampu menceritakannya kembali meski mencoba untuk mencatat rekaman kehidupan dalam bentuk tulisan. Coba perhitungkan berapa lama kita menghabiskan hidup kita hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, tidur, dan melakukan aktifitas lainnya. Sungguh semakin singkat saja hidup kita jika kita bayangkan demikian.  Apalagi waktu berdua dengan Allah SWT hanya sedikit saja tersedia dibandingkan waktu untuk urusan duniawi. Memang harus betul-betul kita sadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sekejap. Mengamati dan menceritakan kembali proses perjalanan hidup sajapun kita ga mampu padahal sudah kita lalui sendiri. Itu mengamati apa yang telah dilalui dan coba mengamati apa yang belum dilalui seperti membayangkan apa yang terjadi di masa yang akan datang seperti lawan kata dari kehidupan yaitu kematian. Siapa yang bisa menjamin bahwa hanya orang yang sudah lanjut usia saja yang mendekati kematian? Kematian seperti yang disebutkan diatas, maka perlu diketahui bahwa yang mengalami kematian sebenarnya hanyalah jasad saja (wallahu a'lam), sedangkan ruh kita tidak pernah mengalami kematian. Sejak diciptakan pertama kalinya dan diambil kesaksiannya tentang keesaan Allah SWT ketika dikumpulkan di alam ruh sebagaimana disebutkan dalam surat al A’raf 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menciptakan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah SWT mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

Setelah manusia mengalami kematian maka mulailah ruh menempuh perjalanan panjang yang tidak akan pernah berkahir. Sifat ruh sama seperti "energy", dalam ilmu fisika kita mengenal teori kekekalan energy. Teori kekalan Energy mengatakan bahwa energy bersifat kekal, tidak bisa dimusnahkan, dihancurkan ataupun dilenyapkan. Ia hanya mengalami perubahan bentuk. Ruh memiliki sifat seperti energy ini, ia tidak bisa dimusnahkan, dilenyapkan ataupun dihancurkan, ia kekal selamanya, ia hanya berubah bentuk mulai di alam ruh, alam dunya, alam barzakh dan alam akhirat kelak.

Kita bisa merasakan ketiks selama hidup di dunya, ruh kita tidak pernah tidur atau istirahat walau sejenak. Jika kita tidur pada malam hari, yang tidur adalah jasad (jasmani) kita sedang ruh kita sendiri, pergi berjalan entah kemana. Ruh tidak bisa hancur, musnah dan lenyap namun ia bisa merasa lemah, sakit dan menderita. Ruh yang kurang mendapat perawatan akan menjadi lemah menderita dan sakit. Penyakit ruh umumnya akan merembet pada penyakit fisik atau jasmani, penyakit ruh yang umum kita kenal antara lain, gelisah, kecewa, dengki, cemas, takut, sedih, tertekan dan stress berkepanjangan.

Ruh manusia mengalami proses pendewasaan selama hidup di dunia. Perjalanan singkat di dunia dilalui  sebagai sebuah persiapan untuk di alam selanjutnya. Semua bekal yang dibawa untuk perjalanan hidup di alam barzakh dan akhirat diperoleh dari alam dunia, namun sayang selama hidup di dunya banyak orang yang tidak mempedulikan kebutuhan ruhnya untuk menghadapi perjalanan panjang yang takkan pernah berakhir ini. Kebanyakan manusia hanya fokus pada masalah kehidupan dunia, dan tidak peduli dengan masalah kehidupan akhirat yang lebih dahsyat dibandingkan dengan kehidupan dunia. Kebanyakan manusia juga lebih mengutamakan kebutuhan jasadnya saja dari pada kebutuhan ruhnya. Coba jika ada yang terasa kurang pada jasad kita seperti ketika perut merasa lapar atau penampilan fisik yang kurang rapi maka sering kita lebih mengutamakan hal itu dibandingkan dengan keringnya hati dan ruh.

Mereka baru menyadari kekeliruan mereka tatkala ruh telah sampai di tenggorokan, hingga tatkala mereka telah pindah ke alam barzakh mereka hanya bisa mengeluh tanpa dapat berbuat banyak dan tangisan darahpun takkan mampu mengembalikan mereka ke kehidupan dunia sebagaimana disebutkan dalam surat al Mukminun ayat 99-100 :

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ
لَعَلِّىٓ أَعۡمَلُ صَـٰلِحً۬ا فِيمَا تَرَكۡتُ‌ۚ كَلَّآ‌ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآٮِٕلُهَا‌ۖ وَمِن وَرَآٮِٕهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُون
Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.  Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.

Penyesalan itu memang selalu berada di ujung, namun penyesalan yang muncul setelah datangnya kematian hanyalah sesuatu yang sia-sia. Masa lampau tidak akan pernah kembali, kita hanya terus maju menghadang masa yang akan datang, apapun keadaan kita. Orang yang bijaksana akan mengumpulkan bekal sebanyak banyaknya untuk menempuh perjalanan panjang dialam barzakh dan akhirat. Orang yang lalai hanya fokus pada kehidupan dunia, tidak pernah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu. Bahkan terkesan tidak peduli dengan kehidupan akhirat. Sebagian besar manusia di dunia termasuk kedalam golongan orang yang lalai ini, sebagaimana disebutkan dalam surat Yunus ayat 92:

 فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةً۬‌ۚ وَإِنَّ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَـٰتِنَا لَغَـٰفِلُونَ
Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Lebih tegas lagi disebutkan dalam surat al Insan ayat 27 :

إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ يُحِبُّونَ ٱلۡعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَآءَهُمۡ يَوۡمً۬ا ثَقِيلاً۬
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).

Semoga kita tidak termasuk orang yang lalai, seperti disebutkan dalam ayat Quran di atas. Mari persiapkan segala bekal kita untuk menempuh perjalanan panjang yang tidak akan pernah berakhir di dunia dan akhirat. Penyesalan di akhirat kelak tidak ada gunanya, masa lalu tidak akan pernah kembali, masa yang akan datang pasti terjadi. Bersiap-siaplah menghadapi berbagai perubahan yang akan kita alami sepanjang perjalanan hidup yang amat panjang dan melelahkan ini. Berbekallah dan sebaik baik bekal adalah Taqwa. Mari bersama mengaktualisasikan kehidupan yang lebih Islami berpegang teguh pada Quran dan Sunnah. Dan saling berlomba-lomba dalam melakukan amal ma'ruf (fastabiqul khairat). Semoga bermanfaat bagi kita semua.

1 Comments:

Mujahadah said...

Alhamdulillah... peringatan buat saya yang lalai

Post a Comment