Perjuangan Hidup

Kepahitan hidup harus diresapi, kesulitan hidup siap dihadapi, keluar dari hidup bukan solusi. Kehidupanlah yang menjadi tujuan, bukan kematian. Kematian adalah akhir kehidupan duniawi. Masa kehidupan yang dilalui manusia di dunia menentukan hasil akhirnya, di dunia maupun di akhirat. Pengangkatan manusia sebagai khalifah oleh Allah di alam ini adalah agar ia bekerja dan berusaha di dalamnya. Ia diciptakan menurut standar ala mini dan sesuai dengan karakter, bukan alam yang lain. Setiap alam memiliki makhluknya masing-masing yang sesuai dengan watak alam itu dan kepentingan penciptaannya, sedangkan pahala itu ada dengan eksistensi dari taklif. Setiap insan yang menerima ajaran Islam telah mengetahui hal tersebut yang berorientasi untuk selalu berjuang melawan arus deras kehidupan. Di sinilah terletak inti taklif, dari sinilah pahala dihitung. Manusia telah ditakdirkan untuk bekerja memakmurkan alam ini. Sesuai dengan tujuan syariat untuk memenuhi tuntutan kebahagiaan manusia, bahkan hewan dan ciptaan yang lain dilarang untuk dianiaya. Sesuai dengan prinsip bahwa alam ini ditundukkan untuk manusia, maka semua makhluk saling menyempurnakan satu sama lain, sebahagian hidup di atas bagian yang lain dalam siklus kehidupan di permukaan planet bumi ini. Maha suci Allah SWT.

Sahl bin Abdillah At-Tustari berpendapat bahwa tiada yang mengharapkan kematian kecuali salah satu dari tiga orang yaitu: seorang yang tidak tahu perkara setelah mati, orang yang melarikan diri dari takdir Allah, atau orang yang merindukan pertemuan dengan Allah. Akan tetapi, kecintaan hamba untuk bertemu dengan sang Khaliq harus diwujudkan dengan ketaatan. Anas RA meriwayatkan, “kami melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW dan diantara kami ada yang berpuasa dan tidak. Kemudian, pada saat panas terik, kami berhenti di suatu tempat. Sebagian besar dari kami berlindung di balik jubah dan sebahagian lagi menahan terik panas matahari dengan tangan. Mereka yang berpuasa beristirahat, sedangkan mereka yang tidak berpuasa sibuk membangun tenda dan memberi minum hewan tunggangan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “pada hari ini orang-orang yang tidak berpuasa memperoleh seluruh pahala orang-orang yang berpuasa.’’ 

Deskripsi kematian menurut konsep-konsep yang telah ada, bukanlah untuk kematian itu sendiri, membangkitkan rasa takut, melainkan untuk menyuruh manusia bersungguh-sungguh, bekerja, dan mempersiapkan bekal dan sesungguhnya bekal yang paling baik adalah takwa, dan ketaatan berlangsung selama kehidupan, bukan pada saat menjelang kematian atau sesudahnya. Kematian dideskripsikan untuk memberikan maslahat kepada manusia. Dengan itu manusia menggunakan kekayaan Allah di bumi ini sesuai dengan kehendak Allah, bukan semata-mata untuk melakukan ibadah yang terlepas dari kemaslahatan manusia, memuaskan dorongan nalurinya, memenuhi seluruh hasrat dan kebutuhan pokok hidupnya, tetapi juga agar hal itu dilakukan dengan jalan yang benar, serta dengan keserasian dan keselarasan yang dapat mendatangkan ketenagan dan ketenteraman bagi manusia dan memberinya hidup yang sentosa. Setelah melakukan semua itu, maka saat kematian baginya merupakan sebuah momen yang dinantikan karena telah mempersiapkan diri untuk perjalanan itu dan memperoleh waktu yang dijanjikan untuk bertemu Sang Kekasih. 

At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadist dari Syaddad bin Aws bahwa Nabi SAW bersabda: “Orang yang bijak adalah orang yang merendahkan nafsunya, beramal untuk kehidupan setelah mati, tidak diperbudak oleh hawa nafsunya, dan berharap ridha dari Allah SWT. Hidup adalah mempertahankan aqidah dan perjuangan. Perjuangan untuk mempertahankan aqidah umat dimanapun kaki berpijak. 
Islamkan daerah yang kita pijak!
Islamkan Indonesia!
Bahkan islamkan dunia, Allahu Akbar!
Tiada kata takut sengsara!
Tiada kata kehilangan prinsip!
Tiada kata takut miskin!
Tiada kata bergerak tanpa tujuan dalam perjuangan hidup.
Jangan takut menghadapi derita dan cobaan karena kita takkan pernah mengetahui apa yang terbaik di mata Allah SWT.

Kita masih sering termenung seorang diri memikirkan kehidupan yang sedang kita geluti. Terkadang kita membenci hidup. Kita ingin sekali jauh dan jauh dari kenyataan. Terkadang pula kita lupa akan dosa yang menenggelamkan kita. Mencari-cari yang tak mungkin kita dapati. Kita tak sadar dan telah lupa akan datangnya maut serta adzab setelah kehidupan dunia. Dunia tak selebar daun kelor, dunia ini sangat luas dan ada banyak hal yang belum kita ketahui. Kita bebas meniti langkah selanjutnya. Kita bebas berkarya dan bekerja di atas dunia. Tentukan apa yang paling baik bagi kita karena hidup adalah untuk menentukan pilihan.

Tiada arti perjuangan Napoleon Bonafarte yang hanya mengingat kekasihnya pada saat sakaratul maut.
Tiada arti perjuangan Hittler yang mempertahankan nasib bangsanya, ternyata pada akhirnya ia bunuh diri karena takut sengsara dan menderita.
Rasulullah sang pejuang terbesar sepanjang zaman, bahkan pada saat sakaratul mautpun masih terdengar lirih kata-kata‚ “ummatii, ummatii (umatku, umatku)’’Artikel ini saya akhiri dengan mengutip firman Allah SWT:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

5 Comments:

Dhana/戴安娜 said...

salam sahabat
kepahitan hidup memang harus diresapi dari resapan itu semoga kita bisa mendapatkan hikmah dibalik semua kepahitan yang ada,oh iya gak ada folowersnya yach mau follow tidakm menemukan xixixi,maaf telat

Ihsanul Huda said...

Ahm, tombol tuk followers bersembunyi d balik tab social dan akan mnemukn sub follow, follow on blog..
Tab t'sbut b'ada d atas title post..
Syukran..

genial said...

...tapi saiia rasa Hitler gag semudah itu pengertian takut menderitanya kan kang.. beliau lebih dikarenakan gag mau menjadi orang yang di kalahkan hinga lalu memutuskan utk bunuh diri :(

Ihsanul Huda said...

@genialYa, tdk salah mmang dan stiap orang boleh saja mmandang dari sudut b'bda, tapi bukankh sama saja jika kita pandang dari sisi bahasa, hubungan sebab akibat yg t'jadi, pngertian takut akan ksengsaraan dan pnderitaan. Jika ia takut dkalahkn dan jika mmang ia bnar dkalahkn buknkh hal ini akan mnjadi sbuah tkanan bsar pada diri Hittler, yg mungkin akan mnybabkn ksngsaraan dan pnderitaan bagi dirinya??

Syaifullah Arifin said...

Wah. ini blog kamu juga sobat ???
keren bgt sob...
wah... punya blog 2 sekaligus.. sama-sama jalan lagi...
kerenn sob...

Post a Comment