Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Kita hidup di Negara yang terdiri dari berbagai macam ras, suku, dan agama. Sehari-hari kita selalu bergaul dengan banyak orang dari berbagai macam agama dan kepercayaan, dan setiap agamapun memiliki hari perayaan masing-masing contoh untuk saat ini perayaan natal kaum nasrani. Melihat kenyataan ini maka tumbuh dua sudut pandang yang berbeda di antara umat Islam. Di satu sisi ada kalangan yang menganggap bahwa kaum nasrani itu bukan musuh, kepada mereka tidak dipaksakan untuk memeluk Islam, bahkan tidak dilarang untuk hidup berdampingan, saling tolong dan saling hormat, sampai saling mengucapkan selamat dalam hari perayaannya. Di sisi lain, ada kalangan yang tetap berprinsip bahwa kaum nasrani harus dimusuhi, dan tidak bisa dipercaya. Maka kecenderungannya dalam fatwa yang berkembang adalah haram untuk saling mengucapkan selamat di hari perayaannya. 

Bagaimana baiknya kita menyikapi hal ini? Apakah mengucapkan selamat di hari perayaan agama lain diperbolehkan dalam agama Islam? Sikap seorang muslim terhadap hari perayaan non muslim untuk tidak memberikan respon dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau bahkan memeriahkan perayaan mereka, seperti hadir pada hari perayaan mereka. Hadir dalam hari perayaan mereka menunjukkan persetujuan terhadap agama mereka, karena dalam hal ini juga Rasulullah SAW bersabda: “dan janganlah kalian menemui orang-orang musyrikin di gereja-gereja atau tempat-tempat ibadah mereka karena kemurkaan Allah sedang menimpa mereka.” (H.R. Baihaqi) 

Selain bentuk dukungan yang telah disebutkan tadi, bentuk ucapan selamat pada hari perayaan mereka juga adalah haram. Memberikan ucapan tersebut sama saja kita mengucapkan selamat atas sujud mereka pada patung dan salib serta setuju atas agama mereka. Pendapat ini difatwakan oleh Ibn al Qayyim al Jauziyah. Beliau pernah menyampaikan bila pemberian ucapan selamat natal (merry Christmas) kepada orang-orang kafir hukumnya haram. Dalam kitabnya Ahkam Ahl adz Dzimmah, beliau berkata: “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan. Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati kaharamannya seperti memberi ucapan selamat atas hari perayaan mereka, meskipun pengucapnya tidak terjerumus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya dari pada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamar, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid'ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah". Demikian ucapan beliau rahimahullah (Dinukil dari Fatwa tentang Hukum menyambut hari Natal/non muslim & Tahun Baru oleh Asy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan).  Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin. (Jilid III, 44-46, No.403)

Allah SWT berfirman surat al Maidah ayat 2

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحِلُّواْ شَعَـٰٓٮِٕرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّہۡرَ ٱلۡحَرَامَ وَلَا ٱلۡهَدۡىَ وَلَا ٱلۡقَلَـٰٓٮِٕدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ يَبۡتَغُونَ فَضۡلاً۬ مِّن رَّبِّہِمۡ وَرِضۡوَٲنً۬ا‌ۚ وَإِذَا حَلَلۡتُمۡ فَٱصۡطَادُواْ‌ۚ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ أَن صَدُّوڪُمۡ عَنِ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ أَن تَعۡتَدُواْ‌ۘ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ‌ۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٲنِ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
"Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." 

Dan Allah SWT berfirman pula surat al Imran 149: 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تُطِيعُواْ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَرُدُّوڪُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَـٰبِكُمۡ فَتَنقَلِبُواْ خَـٰسِرِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang merugi". (Q.S. 3:149)

Dari ayat-ayat tersebut sudah jelas dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka.

Al Quran memang menggambarkan bahwa orang-orang nasrani adalah orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan umat Islam. Sebab mereka masih mengakui Allah SWT sebagai Tuhan, juga mengakui keberadaan banyak nabi dan malaikat. Mereka juga percaya adanya kehidupan sesudah kematian (akhirat). Sekedar penambahan pengetahuan bahwa terlepas dari fatwa haramnya mengucapkan selamat natal, ada masalah yang lebih penting lagi, yaitu kesepakatan para ahli sejarah bahwa Nabi Isa AS sendiri tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Dan tidak pernah ditemukan data akurat tanggal kelahiran Nabi Isa AS. Justru, pada tanggal inilah merupakan hari kelahiran anak Dewa Matahari di cerita mitos Eropa kuno. Mitos itu pada sekian ratus tahun setelah wafatnya nabi Isa masuk begitu saja ke dalam ajaran kristen lalu diyakini sebagai hari lahir beliau. Padahal tidak ada satu pun ahli sejarah yang membenarkannya, bahkan British Encylopedia dan American Ensyclopedia sepakat bahwa 25 bukanlah hari lahirnya Nabi Isa AS. Kesimpulannya, jelas dengan mengucapkan selamat pada hari perayaan agama lain, contoh ucapan selamat natal pada kaum nasrani adalah haram. Allahu a'lam dan silakan jika ada yang ingin menambahkan.

7 Golongan Mendapat Naungan Allah SWT

Teringat tatkala khatib jumat lalu berkhutbah, yang diantara khutbah jumatnya berisikan hal-hal yang mengarahkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Berikut kesimpulan singkat yang diperoleh tentang tujuh golongan manusia yang Insya Allah akan mendapatkan naungan Allah SWT di hari akhir nanti.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tujuh golongan manusia yang akan diberi perlindungan oleh Allah SWT dalam naunganNya di hari yang tiada naungan melainkan hanya perlindungan Allah yaitu: seorang imam (pemimpin) yang adil, fata (pemuda) yang senantiasa beribadah kepada Allah, rijal (lelaki) yang hatinya sentiasa terpaut dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang lelaki yang diajak oleh wanita rupawan serta berkedudukan tinggi untuk melakukan zina, lalu ia menjawab: “aku takut kepada Allah”, seseorang yang bersedekah dengan sesuatu sedekah lalu menyembunyikan sedekahnya itu sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya, seseorang yang mengingati Allah di tempat yang sunyi lalu mengalir air matanya. ”(Riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah SWT di hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya dari naunganNya yakni:

1. Pemimpin yang adil

Pemimpin disini bisa presiden, kepala keluarga, imam shalat, bahkan pemimpin untuk dirinya sendri. Contoh, untuk imam shalat, yang dimaksud imam yang adil adalah tidak membeda-bedakan saat ia sholat sendiri maupun sedang mengimami jamaahnya. Hal ini diartikan untuk bersikap rata dan adil dalam tingkat kekhusyuan shalatnya dan tidak membeda-bedakan panjang pendeknya surat yang dibaca. Sehingga akan terhindar pula dari sifat ria dan ingin dipuji akan setiap amal yang dilakukannya. Maka, memohon dan berlindunglah pula kepada Allah akan buruknya sifat ria yang terkadang dilakukan di luar batas sadar kita.

2. Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya

Anak muda yang shalih. Memang ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan bertaqarrub (mendekatkan) diri kepadaNya, berusaha untuk menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya. Insya Allah, Allah SWT akan memberikan perlindunganNya pada hari kiamat kelak. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada anak-anak muda yang shalih. Ingat, janganlah kita beranggapan bahwa masa muda kita harus dipergunakan untuk hidup senang-senang, beranggapan pula bahwa hanya orang yang telah berlanjut usia saja yang hanya mendekati kematian. Siapa yang bisa menjamin bahwa kematian tidak akan datang pada kaulah muda, sehingga ia beranggapan untuk menghabiskan waktunya saat ini untuk hidup bersenang-senang selagi masih muda.

3. Orang yang hatinya terikat pada masjid

Seseorang yang hatinya selalu terikat pada masjid sehingga menjadikan masjid sebagai tempat yang paling dirinduinya, tempat untuk mencurahkan segalanya kepada Allah SWT, tidak ada hal apapun yang dapat menghalanginya dan keluarganya kecuali keinginan untuk selalu berjamaah di masjid atau musholla, adalah salah satu tanda hati sudah terikat kepada masjid, jadi sudah sewajarnya apabila manusia-manusia yang hatinya selalu terikat pada tempat yang paling dicintaiNya, akan mendapatkan perlindungan di hari akhir. Rindu akan masjid berarti rindu kepada Allah SWT.

4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah SWT

Dua orang insan (sepasang suami isteri) yang saling mencintai karena Allah dan keduanya berkumpul dan berpisah  pula karena Allah. Makna yang didapat adalah kebersamaan dan persahabatan. Kita melakukan sesuatu bersama-sama dengan saudara kita, dan kita melakukannya semata-mata karena mengharap ridha Allah. Saat saudara kita lupa dan ingkar kepada Allah, kita mengingatkannya. Begitu pula sebaliknya, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan saling mengingatkan dan berlomaba untuk melakukan amal shalih. Itu adalah cermin persahabatan yang dirahmati Allah.

5. Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa yang cantik untuk melakukan hal tercela tetapi dia berkata "aku takut kepada Allah"

Mampu melawan beratnya tantangan ketika menghadapi godaan lawan jenis. Hal ini dicontohkan pada saat Nabi Yusuf AS berada dalam istana raja dan mendapat godaan yang luar biasa dari Siti Julaikha, seorang wanita kaya yang sangat rupawan. Nabi Yusuf bermunajat kepada Allah SWT dan berkata ‘lebih baik hidup di penjara dari pada di istana’ karena beliau tahu betapa Allah akan melindunginya di yaumil akhir apabila dapat melawan godaan yang sangat berat itu. Sungguh, Rasulullah pula pernah menegaskan dan menjelaskan bahwa perang yang terbesar adalah perang melawan nafsu dan perang-perang yang pernah beliau lalui bersama para sahabat dan umatnya ketika itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan perang melawan hawa nafsu.

6. Bersedekah tetapi merahasiakannya

Ihklas dalam beramal dan bersedekah seolah-olah tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanan. Jangan bersikap ria dan ingin dilihat orang lain dalam melakukan perbuatan kebaikan, sungguh sia-sialah pahalanya. Semua berawal dari niat, bahkan dalam beramal sekalipun. Dalam hadist Arbain, keutamaan berniat sebelum melakukan amalan ditempatkan pada hadist yang paling pertama. Dilambangkan dalam bersedekah, berusaha agar tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Sungguh luar biasa manfaat dan hikmah di balik sedekah. Janganlah kita enggan untuk mengeluarkan sedikit rejeki kita untuk orang yang membutuhkannya.

7. Dzikrullah di waktu sunyi sehingga mengalir air matanya.

Hal ini mengandung pengertian untuk bertahajud dan berdzikir kepada Allah, terbangun pada tengah malam, berserah diri, merasa dirinya sangat kecil dan tiada artinya di hadapanNya, memohon ampun dan bertafakur (mengingat) dosa-dosa di masa lalu sehingga tak terasa bercucuran air matanya, bertaubat dengan sebaik-baiknya taubat kepada Allah, Insya Allah dijamin perlindungannya di akhir waktu kelak. Sulit memang, terbangun tengah malam untuk bermunajat mengadu padaNya, tapi semoga tulisan ini pula sekaligus menjadi motivasi yang ampuh untuk saya secara pribadi, untuk kita bersama.

Mudah-mudahan kita bisa melakukan amal shalih dengan sebaik-baiknya dari beberapa kriteria yang telah disebutkan dan kita harus berusaha menjadi salah satu dari golongan tersebut. Beramal shalih mengharapkan syafaat Rasulullah SAW dan perlindungan Allah SWT, bahagia di dunia dan akhirat. Amin.

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1432 H

Beberapa kerabat bertanya kepada saya menjelang tahun baru hijriyah. Apakah perlu mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah (Islam)? Apakah makna tahun baru hijriyah secara hakiki dalam Islam? Lantas, saya balik bertanya untuk menanggapi pertanyaan awal tadi mengapa antum tidak bertanya kelayakan perayaan tahun baru masehi karena bukankah tahun baru masehi lebih utama dirayakan oleh sebagian besar orang. Lebih jauh saya berfikir, tanda tanya semakin mengakar di kepala saya karena tidak banyak pengetahuan tarikh saya maka untuk menjawab kedua pertanyaan ini saya merasa perlu untuk mengingat-ingat kembali dengan membuka-buka buku tarikh Islam dan mencari-cari informasi berkaitan hal ini. Sebenarnya ekspresi apa yang pantas untuk menunjukkan perasaan kita akan hadirnya bulan muharram. Bagaimana kita memaknai bulan ini. Apakah muharam harus disambut dengan kegembiraan atau kesedihan? Pertanyaan umum yang sering disampaikan saudara kita yaitu ketika muharram datang, apakah Rasulullah SAW sering merayakan muharam atau dengan kata lain mengucapkan selamat tahun baru hijriyah pada sesama muslim lainnya sehingga saat ini kitapun harus mengikutinya sebagai sunnah? Lalu pada bulan muharram apa yang sebaiknya dilakukan umat Islam?
 
Pada bulan Muharam, Rasulullah SAW mencontohkan untuk meningkatkan amaliyah ibadah, misalnya dengan berpuasa Assyura’ (pada tanggal 10 Muharram). Mengenai puasa ini terdapat silang pendapat apakah sunnah muakkad (ditekankan) atau ghairu muakkad (tidak ditekankan). Bahkan ada yang semakin terheran ketika ada suatu jamaah yang berpuasa melek untuk suatu tujuan tertentu, karena sebagaimana yang pernah saya alami bersama mereka pada tahun-tahun yang silam, saya rasa sama sekali tidak ada efek negatifnya, sama halnya dengan melakukan I’tikaf pada malam-malam bulan ramadhan.

Di antara keutamaan dan keberkahan bulan muharam, sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa yang jatuh pada) bulan Allah, (yaitu) Muharram.” (HR. Muslim)

Diantara keberkahan bulan Muharram berikutnya, jatuh pada hari kesepuluh, yaitu hari Assyura'. Hari Assyura' ini merupakan hari yang mulia dan penuh berkah. Hari Assyura' ini memiliki kesucian dan kemuliaan sejak dahulu. Dimana pada hari ‘Asyura ini Allah SWT menyelamatkan seorang hamba sekaligus NabiNya, Musa AS dan kaumnya serta menenggelamkan musuhnya, Fir’aun dan bala tentaranya. Sesungguhnya Nabi Musa AS berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukurnya kepada Allah. Sedangkan orang-orang Quraisy di zaman Jahilliyah juga berpuasa pada hari ini, begitu pula Yahudi. Mereka dulu berpuasa pada hari Assyura'. Berdasarkan pendapat kebanyakan ulama, puasa ini pada mulanya wajib bagi kaum muslimin sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, kemudian (berubah) menjadi sunnah. Sebagaimana yang tedapat dalam ash Shahihain dari ‘Aisyah RA, ia berkata: “Dahulu orang-orang Quraisy berpuasa Assyura' pada zaman Jahilliyah. Dan Rasulullah SAW sendiri juga berpuasa Assyura'. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau terus melaksanakan puasa Assyura', dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Lalu ketika diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan, beliau bersabda: Barangsiapa yang mau berpuasa ‘Asyura, berpuasalah dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya, tinggalkanlah.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan juga tertera dalam ash Shahihahin dari Ibnu ‘Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW datang ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Assyura'. Maka Rasulullah SAW bertanya pada mereka, “Hari apakah ini, yang kalian berpuasa di dalamnya?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari yang agung, pada hari inilah Allah menyelamatkan Musa AS dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Maka Musa berpuasa pada hari Assyura' ini sebagai tanda syukurnya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Maka, kami lebih berhak terhadap Musa AS dan lebih diutamakan daripada kamu sekalian.” Lalu Rasulullah SAW berpuasa Assyura' dan memerintahkan kaum muslimin agar berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan puasa pada hari ini memiliki keutamaan yang besar, dimana puasa ini dapat meleburkan dosa-dosa setahun yang lalu, sebagaimana tertera dalam Shahih Muslim, dari Abu Qatadah al Anshari RA: “Sesungguhnya Rasulullah SAW ditanya tentang puasa pada hari Assyura”, maka beliau bersabda: “Dia akan menggugurkan (dosa-dosa) setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Ada beberapa pesan perubahan dalam menyambut Tahun Baru Hijriah yaitu semangat hijrah merupakan semangat perubahan, sebagaimana pesan yang pernah disampaikan oleh para ustadz saya selama menyantri di Pondok Pesantren Daar el Qolam, yang mengambil ibrah dari berbagai macam peristiwa dahsyat salah satunya peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”, kurang lebih pesan tersebut diantaranya adalah:

1. Untuk berhijrah (berpindah) dari kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak bermanfaat pada tahun-tahun sebelumnya agar tidak diulangi lagi di tahun baru Islam ini.

2. Untuk lebih melakukan amalan-amalan kecil namun dilakukan secara istiqamah, daripada hanya melakukan amalan-amalan besar tetapi hanya dilakukan sesaat karena sesungguhnya Rasulullah sangat menyukai amalan-amalan kecil namun dilakukan secara rutin terus-menerus.

3. Untuk tajdidun niat yaitu memperbaharui niat. Tidak hanya tahunnya saja yang baru namun segala perubahan diri harus diperbaharui ke arah yang lebih baik untuk meningkatkan spiritualitas dan ketakwaan kita. Berupaya dengan niat yang tulus ikhlas lillah agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi sekitar kita, keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.

Umur kita semakin hari semakin berkurang, maka selayaknya dengan semakin berkurangnya umur kita berusaha untuk memanfaatkan kesempatan hidup di dunia ini dengan sebaik mungkin. Sungguh, tiada artinya penyesalan dan permohonan ampun apabila nyawa sudah berada di tenggorokan. Sesungguhnya penyesalan itu tidak akan pernah berada di awal. Maka, mari bersama berlomba mengaktualisasikan kehidupan yang lebih Islami. Fatabiqul khairat.