Showing posts with label Perjuangan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Perjuangan Hidup. Show all posts

Takut Miskin

Apakah anda termasuk orang yang takut miskin? Apakah orang yang miskin itu dapat dipastikan hidupnya tidak pernah merasakan kebahagiaan? Kebahagiaan seseorang tidak selamanya diukur oleh harta kekayaan semata. Kebahagiaan sumbernya dari hati, tidak mesti tenggelam dalam harta. Alangkah banyaknya pada zaman ini kita temui orang yang telah sukses hidupnya, memiliki harta kekayaan dimana-mana, tetapi dia jarang atau bahkan tidak pernah merasa nyaman dan bahagia atas kekayaannya itu. Apa itu mungkin disebabkan berlarut dalam kegelisahan karena takut kehilangan harta, atau seperti orang yang bingung langkah apa lagi yang harus dilakukan setelah mencapai puncak kesuksesan. Hal ini dapat dipastikan karena keringnya jiwa spiritual yang ada pada orang tersebut. 

Kehidupan ini memang seperti roda yang terus berputar seiring dengan perputaran bumi kita. Tidak selamanya saya ataupun anda selalu berada di atas. Sesungguhnya dunia ini tempat ujian. Segala apa yang di atas bumi ini adalah sarana ujian bagi kita. Jangan dikira ujian itu hanya berupa kesengsaraan atau kemiskinan saja. Nikmat rezeki dan kesenangan duniapun juga ujian bagi kita semua. Dalam pandangan Allah SWT, bahwa seorang Muslim yang miskin itu adalah kekasih yang kelak akan dimuliakannya lebih dari seorang Muslim yang kaya. 

Di dalam sebuah hadist qudsi Anas RA berkata: “Rasulullah bersabda bahwa Allah SWT berfirman: “Allah SWT berfirman pada hari kiamat: “Dekatkanlah kepadaKu kekasih-kekasihKu.” Bertanya para malaikat: “Siapakah kekasih-kekasihMu Tuhan?” “Orann-orang Islam yang fakir miskin” Firman Allah. Setelah didekatkanlah mereka padaNya, berfirmanlah Allah SWT: “sesungguhnya Aku tidak menauhkan dunia dari kamu karena kerendahan kedudukanmu di hadapanKu, akan tetapi dengan itu aku hendak melipatgandakan kemuliaan untukmu. Maka mintalah apa yang kalian kehendaki hari ini.” Kemudian dimasukkanlah mereka ke dalam surge lebih dahulu 40 tahun sebelum orang-orang muslim kaya masuk. (HR Abus Syekh)

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang makan dan bersyukur sama kedudukannya dengan orang yang berpuasa (karena tidak punya makanan) lalu bersabar atasnya. (HR At Titmidzi)

Hadist di atas menerangkan bahwa dalam pandangan Allah SWT orang kaya yang bersyukur karena nikmat kekayaannya juga sama dengan orang miskin yang bersabar karena hidup dalam kemiskinannya. 

Ada lima kemulian kaum fakir miskin di hadapan Allah SWT: 
1. Pahala shalat, sedekah dan ibadah lainnya melebihi orang kaya. 
2. Pahala dari keinginan yang tidak dipenuhi. Apabila doa dan permohonan kita tidak dikabulkan, janganlah berburuk sangka karena menganggap Allah menolak doa kita, bias jadi yang terjadi sesuai dengan firman Allah SWT di bawah ini:
 
Firman Allah SWT surat An Nisa 19: 

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٌ۬ مِّنكُمۡ‌ۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرًّ۬ا لَّكُم‌ۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ‌ۚ لِكُلِّ ٱمۡرِىٍٕ۬ مِّنۡہُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِ‌ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُ ۥ مِنۡہُمۡ لَهُ ۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬ 
Dan Firman Allah SWT surat An Nur 24:
.....Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.
 
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهً۬ا‌ۖ وَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ لِتَذۡهَبُواْ بِبَعۡضِ مَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَـٰحِشَةٍ۬ مُّبَيِّنَةٍ۬‌ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِ‌ۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرً۬ا ڪَثِيرً۬ا
.....mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
3. Masuk surga lebih dahulu.
4. Ringan hizabnya dibanding yang lain.
5. Tidak menyesal, sebab orang Muslim kaya kelak ingin seperti orang Muslim miskin. 

Menurut Al Faqih Abu Laits Samarqandi, ada beberapa fungsi fakir miskin yaitu:
1. Berfungsi sebagai dokter bagi orang kaya, karena jika sakit ia diperintahkan sedekah kepada fakir miskin.
2. Berfungsi sebagai pembersih, karena dengan sedekah dosa-dosa orang kaya lenyap, atau sebagai pembersih hartanya dengan memberikan zakat.
3. Sebagai pesuruh, karena ketika orang kaya akan bersedekah untuk bakti kepada orang tuanya yang sudah wafat, mereka mengundang orang fakir miskin dan memberikan sedekah kepada mereka. 
4. Penjaga harta kekayaan, sebab harta yang dikeluarkan zakatnya (sedekahnya) akan dipelihara dari aneka bala(bencana). 

Ibnu Abbas RA berkata,” Terkutuk orang yang memuliakan seseorang karena hartanya, dan menghina orang karena kemiskinannya.” 

Satu saat iblis datang dalam wujud orang tua, lalu menemui  Nabi Sulaiman AS, kemudian beliau bertanya, “Apa yang kau lakukan terhadap ummat Nabi Isa AS? Jawab Iblis”. Kuajak mereka menyembah dua tuhan selain Allah, lalu kepada ummat Muhammad, kubujuk mereka dengan emas dan perak, hingga kecintaan mereka terhadap keduanya melebihi “Lailaha illallah”. Kata Nabi Sulaiman,”Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu.” (Riwayat Abdul Mun’im, Idris dari ayahnya, Wahb Manbah) 

Fakir miskin wajib mengerti karunia Allah yang diberikan kepadanya, bahwa Allah menjauhkan harta, karena dimuliakanNya kelak di sisiNya. Karenanya janganlah mengeluh. Bersabarlah menghadapi kesulitan dunia, hal itu niscaya lebih baik daripada dunia, meski kondisi kita dalam kemiskinan. BarakAllahu fikum jami’an.

Perjuangan Hidup

Kepahitan hidup harus diresapi, kesulitan hidup siap dihadapi, keluar dari hidup bukan solusi. Kehidupanlah yang menjadi tujuan, bukan kematian. Kematian adalah akhir kehidupan duniawi. Masa kehidupan yang dilalui manusia di dunia menentukan hasil akhirnya, di dunia maupun di akhirat. Pengangkatan manusia sebagai khalifah oleh Allah di alam ini adalah agar ia bekerja dan berusaha di dalamnya. Ia diciptakan menurut standar ala mini dan sesuai dengan karakter, bukan alam yang lain. Setiap alam memiliki makhluknya masing-masing yang sesuai dengan watak alam itu dan kepentingan penciptaannya, sedangkan pahala itu ada dengan eksistensi dari taklif. Setiap insan yang menerima ajaran Islam telah mengetahui hal tersebut yang berorientasi untuk selalu berjuang melawan arus deras kehidupan. Di sinilah terletak inti taklif, dari sinilah pahala dihitung. Manusia telah ditakdirkan untuk bekerja memakmurkan alam ini. Sesuai dengan tujuan syariat untuk memenuhi tuntutan kebahagiaan manusia, bahkan hewan dan ciptaan yang lain dilarang untuk dianiaya. Sesuai dengan prinsip bahwa alam ini ditundukkan untuk manusia, maka semua makhluk saling menyempurnakan satu sama lain, sebahagian hidup di atas bagian yang lain dalam siklus kehidupan di permukaan planet bumi ini. Maha suci Allah SWT.

Sahl bin Abdillah At-Tustari berpendapat bahwa tiada yang mengharapkan kematian kecuali salah satu dari tiga orang yaitu: seorang yang tidak tahu perkara setelah mati, orang yang melarikan diri dari takdir Allah, atau orang yang merindukan pertemuan dengan Allah. Akan tetapi, kecintaan hamba untuk bertemu dengan sang Khaliq harus diwujudkan dengan ketaatan. Anas RA meriwayatkan, “kami melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW dan diantara kami ada yang berpuasa dan tidak. Kemudian, pada saat panas terik, kami berhenti di suatu tempat. Sebagian besar dari kami berlindung di balik jubah dan sebahagian lagi menahan terik panas matahari dengan tangan. Mereka yang berpuasa beristirahat, sedangkan mereka yang tidak berpuasa sibuk membangun tenda dan memberi minum hewan tunggangan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “pada hari ini orang-orang yang tidak berpuasa memperoleh seluruh pahala orang-orang yang berpuasa.’’ 

Deskripsi kematian menurut konsep-konsep yang telah ada, bukanlah untuk kematian itu sendiri, membangkitkan rasa takut, melainkan untuk menyuruh manusia bersungguh-sungguh, bekerja, dan mempersiapkan bekal dan sesungguhnya bekal yang paling baik adalah takwa, dan ketaatan berlangsung selama kehidupan, bukan pada saat menjelang kematian atau sesudahnya. Kematian dideskripsikan untuk memberikan maslahat kepada manusia. Dengan itu manusia menggunakan kekayaan Allah di bumi ini sesuai dengan kehendak Allah, bukan semata-mata untuk melakukan ibadah yang terlepas dari kemaslahatan manusia, memuaskan dorongan nalurinya, memenuhi seluruh hasrat dan kebutuhan pokok hidupnya, tetapi juga agar hal itu dilakukan dengan jalan yang benar, serta dengan keserasian dan keselarasan yang dapat mendatangkan ketenagan dan ketenteraman bagi manusia dan memberinya hidup yang sentosa. Setelah melakukan semua itu, maka saat kematian baginya merupakan sebuah momen yang dinantikan karena telah mempersiapkan diri untuk perjalanan itu dan memperoleh waktu yang dijanjikan untuk bertemu Sang Kekasih. 

At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadist dari Syaddad bin Aws bahwa Nabi SAW bersabda: “Orang yang bijak adalah orang yang merendahkan nafsunya, beramal untuk kehidupan setelah mati, tidak diperbudak oleh hawa nafsunya, dan berharap ridha dari Allah SWT. Hidup adalah mempertahankan aqidah dan perjuangan. Perjuangan untuk mempertahankan aqidah umat dimanapun kaki berpijak. 
Islamkan daerah yang kita pijak!
Islamkan Indonesia!
Bahkan islamkan dunia, Allahu Akbar!
Tiada kata takut sengsara!
Tiada kata kehilangan prinsip!
Tiada kata takut miskin!
Tiada kata bergerak tanpa tujuan dalam perjuangan hidup.
Jangan takut menghadapi derita dan cobaan karena kita takkan pernah mengetahui apa yang terbaik di mata Allah SWT.

Kita masih sering termenung seorang diri memikirkan kehidupan yang sedang kita geluti. Terkadang kita membenci hidup. Kita ingin sekali jauh dan jauh dari kenyataan. Terkadang pula kita lupa akan dosa yang menenggelamkan kita. Mencari-cari yang tak mungkin kita dapati. Kita tak sadar dan telah lupa akan datangnya maut serta adzab setelah kehidupan dunia. Dunia tak selebar daun kelor, dunia ini sangat luas dan ada banyak hal yang belum kita ketahui. Kita bebas meniti langkah selanjutnya. Kita bebas berkarya dan bekerja di atas dunia. Tentukan apa yang paling baik bagi kita karena hidup adalah untuk menentukan pilihan.

Tiada arti perjuangan Napoleon Bonafarte yang hanya mengingat kekasihnya pada saat sakaratul maut.
Tiada arti perjuangan Hittler yang mempertahankan nasib bangsanya, ternyata pada akhirnya ia bunuh diri karena takut sengsara dan menderita.
Rasulullah sang pejuang terbesar sepanjang zaman, bahkan pada saat sakaratul mautpun masih terdengar lirih kata-kata‚ “ummatii, ummatii (umatku, umatku)’’Artikel ini saya akhiri dengan mengutip firman Allah SWT:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ